RSUD Kayuagung Tolak Berobat Gratis

RSUD Kayuagung Tolak Berobat Gratis
Spread the love

Jurnalline.com, KAYUAGUNG – Program berobat gratis yang diprogramkan Gubernur Sumsel Ir H Alex Noerdin, tampaknya tidak berlaku di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Pasalnya, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kayuagung sejak Januari 2016 lalu, tidak lagi menerima pasien Jamsoskes Sumsel Semesta dari wilayah Kabupaten Ogan Ilir (OI), karena tersandung hutang, Selasa (29/3).

Penolakan pasien dari warga Bumi Caram Seguguk ini diberitahukan secara tertulis melalui surat dari pihak RSUD Kayuagung yang dikirimkan ke Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten OI, dr Siska Susanti. Pihak RSUD Kayuagung beralasan, belum adanya perpanjangan MoU berobat gratis dari Pemkab Ogan Ilir dengan RSUD Kayuagung dan juga belum dibayarnya tunggakan berobat gratis yang besarnya mencapai Rp 6 Milar lebih.

Direktur RSUD Kayuagung, dr H Dedi Sumantri didampingi Kabag Tata Usaha Iskandar Fuad membenarkan jika pihaknya telah melayangkan surat penolakan pasien berobat gratis dari warga Kabupaten Ogan Ilir.

“Selain belum membayar tunggakan berobat gratis, mereka juga (Pemkab) OI belum mengajukan perpanjangan MoU. Karena alasan itulah per Januari 2016 lalu, pasien berobat dari warga OI kita tolak,” kata Dedi, Senin (28/3).

Masih kata Dedi, pasien dari warga Ogan Ilir yang ditolak RSUD Kayuagung hanya untuk pasien Jamsoskes Sumsel Semesta, sementara untuk pasien BPJS dan umum tetap di layani. “Belum adanya pembayaran klaim berobat gratis ini membuat kita kesulitan untuk menutupi biaya operasional. Dari pada tunggakan terus membengkak, sementara tidak ada pembayaran, maka kita stop sementara sembari proses MoU dan pelunasan hutang,” tutur Dedi seraya meminta kepada pedagang agar tidak berjualan di dalam ruang rumah sakit.

Mengenai besarnya tunggakan berobat gratis dari Pemkab OI, Dedi memperkirakan sekitar Rp 6 Miliar lebih. “MoU memang berlaku satu tahun. Setiap tahun selalu diperpanjang, namun untuk tahun ini belum dilakukan perpanjangan. Surat yang kita layangkan juga belum ada jawaban, padahal sudah kita kirim sejak dua bulan lalu,” tambah Fuad.

Kebijakan penolakan pasien berobat gratis yang dikeluarkan jajaran manajemen RSUD Kayuagung ini memperpanjang catatan buruk pelayanan di rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut. Dimana sebelumnya, pasien abortus yang hendak operasi ditelantarkan, lantaran harus menunggu jumlah pasien mencapai 10 orang dan pasien yang ditelantarkan dengan alasan tidak ada lagi bed pasien yang bisa ditempati.

Tak hanya itu, pelayanan di Unit Gawat Darurat (UGD) semakin memperhatinkan, karena para dokter yang magang kerap kali membuat para pasien kesal dan lamban untuk dilayani. Tentunya, semua itu kurangnya kontrol dari pihak rumah sakit mengenai pelayanan. Demikian, di ruang inap, ada keluarga pasien memasang infus sendiri tanpa perawat rumah sakit.

Menyikapi buruknya pelayanan rumah sakit sekarang Sekretaris Komisi IV DPRD OKI H Sholahudin Jakfar mengakui, kesal dengan pelayanan RSUD Kayuagung. “Penolakan pasien berobat gratis ini jelas menyalahi aturan, karena program ini sudah dianggarkan oleh pemerintah, begitu juga RSUD Kayuagung yang merupakan milik pemerintah daerah (Pemda) OKI. Apalagi kalau alasannya hanya tunggakan klaim berobat,” ungkap Sholahuddin.

Pihaknya menegaskan, bukan hanya terkait penolakan pasien berobat gratis dari warga Ogan Ilir, Komisi IV sebagai mitra kerja sangat kesal dengan jajaran manajemen RSUD Kayuagung, karena tidak respon terhadap DPRD. “Bukan hanya persoalan pelayanan dan berobat gratis saja, kami juga pernah mengirimkan proposal terkait adanya bantuan peralatan medis dari pemerintah pusat, namun sepertinya mereka (Direktur) tidak memberikan jawaban. Jadi kami tidak mengerti apa maksud jajaran manajemen RSUD ini,” kesal Politisi Parta Nasdem disela-sela makan siangnya.

Masih katanya, kalau untuk memperbaiki pelayanan di RSUD, sebaiknya Bupati OKI segera melakukan perombakan mulai dari Kepala Kamar, Kepala Ruangan hingga jajaran Direktur segera diberikan penyegaran. “Yang jelas direktur rumah sakit harus orang luar agar bisa memberikan tekanan terhadap para dokter maupun perawat untuk bisa memberikan pelayanan terbaik buat si pasiennya,” tegasnya.

(lim/Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *