Jurnalline.com, Tompaso (MINAHASA) —
Umat Gereja Katolik Kristus Raja Tompaso Satu Jumat, (03/04/2026) pagi tadi melaksanakan Devosi untuk merenungkan penderitaan Yesus dalam Perjalanan menuju Bukit Golgota berlokasi di Seputaran Kompleks desa Liba Tempok raya dan sekitarnya diikuti seluruh umat yang memaknai Jumat Agung tahun 2026.

Adapun dari pantauan wartawan media ini, dalam Ibadah Perarakan Salib 14 Peristiwa ini ditampilkan penuh makna peristiwa demi peristiwa oleh Mudika Kristus Raja Tompaso Satu dengan penuh khidmat.
Pelaksanaan perarakan tersebut berjalan aman lancar dan sukses merupakan bagian dari Tri Hari Suci, Kamis Suci, Jumat Agung dan Vigili Paskah pada Minggu, 5 April 2026 dihadiri para Mudika, PKB/WKI, dan Putra Putri Altar.
Jalan Salib Yesus yang terdiri dari 14 peristiwa atau perhentian (stasi) tersebut menggambarkan kisah sengsara Yesus, mulai dari dijatuhi hukuman mati oleh Pontius Pilatus hingga dimakamkan
Dalam Perarakan yang ditampilkan ini, Kisah perjalanan Yesus menuju penyaliban (via dolorosa) sangat dramatis. Dalam keadaan sebagai manusia Ia sendirian menanggung beban berat.
Para muridNya tidak lagi bersama Dia. Dan dalam proses pengadilan Ia tidak mendapatkan pembelaan dari siapapun.
Meskipun Pilatus maupun Herodes tidak mendapatkan kesalahan apapun dari Yesus, sehingga tidak layak menerima hukuman mati, namun desakan dan tekanan orang banyak makin menyudutkan Yesus.
Pilatus berada pada posisi dilematis (bimbang). Apakah harus mendengar suara kebenaran, dimana ia juga telah diingatkan oleh istrinya agar tidak menghukum Orang Benar, ataukah mendengar suara orang banyak.
Sebagai penguasa Romawi, Pilatus memiliki hak untuk menjatuhkan hukuman.
Tapi pada akhirnya, Pilatus mencari jalan aman untuk menjaga kedudukannya.
Dalam Kitab Injil Markus 15:13-14, menggambarkan tekanan massa yang dihasut oleh imam-imam kepala terhadap Yesus di hadapan Pontius Pilatus.
Mereka berteriak, “Salibkanlah Dia!” secara berulang, meskipun Pilatus menanyakan kejahatan apa yang telah dilakukan-Nya, menunjukkan ketidakadilan pengadilan dan kedegilan hati orang banyak yang mendesak penyaliban Yesus.
Orang banyak, yang dihasut oleh imam-imam kepala, menolak Yesus dan memilih Barabas.
Meskipun Pilatus sadar bahwa Yesus tidak bersalah, namun ia menyerah pada tekanan massa.
Teriakan “Salibkanlah Dia!” semakin keras meskipun Pilatus mempertanyakan dasar tuduhan.
Akhirnya Pilatus memuaskan hati orang banyak dengan membebaskan Barabas dan menyerahkan Yesus untuk disesah lalu disalibkan.
Dalam perarakan Salib di Hari memperingati Jumat Agung ini, sebagai perenungan mengajarkan kita untuk seharusnya menegakkan kebenaran dan bukan tunduk pada suara orang banyak yang menyesatkan.
Meskipun kebenaran itu merugikan kita. Karena kedudukan, kekayaan dan jabatan hanyalah sementara.
Sedangkan kebenaran dan kasih bersifat kekal. (EffendyIskandar)
Copyright © 2017 Jurnalline Cyber Media
