Jurnalline.com, Minahasa — Sosok Steven T. Sambouw, Putera Sulut Berdarah Minahasa yang Pecah Bintang di TNI AL: Kebanggaan dari Bumi Nyiur Melambai
Kabar membanggakan datang dari korps TNI Angkatan Laut.
Salah satu putra terbaik Sulawesi Utara, berdarah Minahasa, Dr. Steven Toar Sambouw, S.H., S.Kep., M.A.P., M.H., M.Tr.Opsla resmi menyandang pangkat jenderal bintang satu atau Laksamana Pertama (Laksma).
Pencapaian ini menjadi buah bibir di “Bumi Nyiur Melambai”, sebutan untuk Sulawesi Utara, karena menambah daftar putra daerah yang berhasil menembus jajaran Perwira Tinggi (Pati) di level Nasional.
Laksma Steven bukan sekadar perwira biasa.
Ia dikenal sebagai sosok intelektual di militer dengan deretan gelar akademis yang panjang.
Pendidikan tingginya mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari kesehatan, hukum, administrasi publik, dan manajemen operasi laut, yang membuktikan bahwa ketajaman berpikir adalah senjatanya selain ketegasan di lapangan.
Perjalanan karirnya juga terbilang unik. Terlahir sebagai Perwira Korp Kesehatan (K) di TNI Angkatan Laut, namun dengan pendidikan bidang hukum mulai dari S1 sampai dengan S3 Ilmu Hukum, akhirnya pada tahun 2023 Laksma Steven diijinkan bergabung dalam jajaran Korp Hukum (H) TNI Angkatan Laut.
Di balik pundak yang kini memikul bintang, ada sosok Meidy Tulung, sang istri yang setia mendampingi.
Peran “Ibu Jenderal” ini dianggap sebagai pilar doa dan dukungan moral yang tak terputus selama Steven bertugas di berbagai wilayah kedaulatan maritim Indonesia.
Bagi masyarakat Minahasa dan Sulut pada umumnya, keberhasilan Steven adalah manifestasi nyata dari filosofi Sam Ratulangi: “Sitou Timou Tumou Tou” (Manusia hidup untuk memanusiakan orang lain).
Dedikasinya diharapkan menjadi inspirasi bagi pemuda di Manado (Sulut) hingga pelosok kepulauan untuk berani bermimpi setinggi langit.
Saat ini, Steven yang juga putera asli Pineleng mengemban amanah sebagai Direktur Strategi Keamanan Laut (Dir Strategi Kamla) pada Deputi Bidang Kebijakan dan Strategi di Bakamla RI.
Bagi Steven, posisi ini bukan sekadar jabatan, melainkan sebuah amanah besar yang bahkan tak pernah ia mimpikan sebelumnya.
Dalam sebuah bincang-bincang, Steven mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam atas anugerah yang diberikan Tuhan dan kepercayaan dari Negara.
Ia menyadari bahwa proses untuk menjadi Perwira Tinggi (Pati) di TNI bukanlah perkara mudah. Persyaratannya sangat ketat dan hanya mereka yang terpilih yang bisa mendapatkan kepercayaan negara.
“Kami dari Sulawesi Utara dengan penduduk yang tidak sampai 3 juta, bisa mewakili provinsi ini sampai mencapai pangkat Perwira Tinggi merupakan kebanggaan luar biasa. Saya ingin membuktikan bahwa di NKRI ini, semua peluang itu tetap ada dan sama bagi setiap anak bangsa, tidak ada diskriminasi,” ujar Steven.
Ia berharap capaiannya ini bisa menjadi suntikan motivasi bagi para junior dan generasi penerus di Sulawesi Utara.
Menurutnya, tidak ada lagi alasan untuk merasa minder. Dedikasi, loyalitas, dan perjuangan sungguh-sungguh adalah kunci untuk diakui oleh negara.
Di balik kesuksesan kariernya, ada cerita haru tentang pengorbanan personal. Sejak membina rumah tangga pada tahun 2000, Steven mengaku lebih banyak menghabiskan waktu terpisah dari keluarga demi tugas.
“Hampir 26 tahun berkeluarga, mungkin cuma 4 atau 5 tahun kami bisa kumpul. Sebagai manusia biasa, kadang ada rasa capek, rasa lelah, bahkan ingin menyerah,” akunya jujur.
Namun, rasa lelah itu selalu sirna ketika ia mengingat kembali Sumpah Prajurit. Baginya, kepentingan negara harus berada di atas segalanya.
“Keluarga nomor satu, tapi NKRI di atas segalanya. Begitu ingat tugas, lelah itu langsung buyar dan kita maju lagi,” tegas jenderal bintang satu ini.
Lanjut Steven, sebagai perwira yang juga seorang akademisi, Steven memiliki visi besar untuk meningkatkan literasi kelautan, terutama bagi masyarakat di wilayah Indonesia Timur.
Ia menyoroti potensi laut yang luar biasa, mulai dari industri jasa maritim, wisata bahari, perikanan hingga mineral, yang menurutnya perlu dikelola dengan hati-hati.
Ia juga menyoroti bahaya Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing jika eksploitasi laut dilakukan tanpa kontrol.
“Visi saya ke depan adalah menggugah lewat tulisan. Bagaimana potensi Indonesia Timur kita tingkatkan, tapi tetap memikirkan keberlanjutannya (sustainability) untuk anak cucu kita,” tutur Ayah dari Mutiara dan Samuel Sambouw.
Menutup perbincangan, Steven memberikan pesan khusus bagi para perwira muda, terutama yang berdarah Kawanua.
Ia mengutip pepatah dari pelaut Amerika yang sering digunakan Presiden Franklin D. Roosevelt: “A smooth sea never made a skilled sailor” (Laut yang tenang tidak pernah mencetak pelaut ulung).
Ia meminta para juniornya untuk tidak melihat kesulitan sebagai beban, melainkan kesempatan untuk mengasah diri.
”Ombak besar itu adalah peluang, bukan tantangan. Kalau kita anggap tantangan, kita mungkin mundur. Tapi kalau kita anggap peluang, kita akan maju menaklukkannya,” pesan Steven.
Ia juga menekankan pentingnya membekali diri dengan dua hal utama: Competitive Advantage (keunggulan kompetitif melalui pendidikan) dan Comparative Advantage (keunggulan komparatif melalui soft skill dan pergaulan).
“Potensi itu hanya akan menjadi kompetensi jika ditunjang dengan soft skill yang kuat,” pungkasnya. (EffendyIskandar)
Copyright © 2017 Jurnalline Cyber Media
