Menyisir 295,14 KM Pesisir Timur OKI
November 27, 2017- Tweet
- Pin It
Jurnalline.com, Kayuagung OKI (Sumsel) – Kabupaten Ogan Komering Ilir memiliki garis pantai terpanjang di wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Panjangnya mencapai 295,14 km membentang dari Air Sugihan hingga ke perbatasan Provinsi Lampung.
Penelitian arkeologis Nurhadi Rangkuti yang dipublikasikan oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbud menyebutkan Jalur laut sepanjang garis pantai ini sudah terkenal sedari dulu. Keterangan penggunan jalur pantai timur itu diperoleh dari catatan-catatan Portugis abad ke 16-17. Catatan pelaut Portugis itu menurut Rangkuti disebut dengan roteiros (buku-buku pemandu laut) yang berisi tentang catatan mengenai lautan Indonesia, terutama jalur pelayaran Selat Bangka dan pantai tenggara Sumatera.
Jalur yang dilalui para pemandu Portugis adalah sepanjang pantai OKI yang berlumpur untuk menghindari karang-karang di sepanjang pantai Bangka. Roteiros juga dilengkapi juga dengan peta-peta. Peta-peta yang dibuat Francisco Rodrigues tahun 1513 dan Andre Persira Dos Reis tahun 1654. Di peta itu juga tergambar adanya Pulau Maspari yang oleh pelaut Portugis Pulau tersebut disebut Lucipara. Teluknya digambarkan sebagai sebuah saluran yang disebut Canal de Lucipara.
Secara ekosistem pesisir Timur OKI terbagi menjadi lahan daratan (mineral) dan lahan basah (mangrove, rawa dan gambut). Hal ini dibuktikan dengan tumbuhnya berbagai kerajaan, sejak era Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, termasuk berbagai tinggalan artefak hingga permukiman yang masih dapat dijumpai jejaknya hingga saat ini.
Sempat redup pada era kolonial Belanda yang lebih memusatkan perdagangan di Batavia, wilayah ini mulai kembali dilirik pada awal abad ke-20 melalui industri karet khususnya di Wilayah Cengal Kabupaten OKI. Karet-karet tersebut dibawa melaui jalur sungai yang mengalir ke laut.
Setelah Indonesia merdeka, tepatnya selama rejim Orde Lama, kondisi masyarakat di pantai timur tidak mengalami perubahan yang signifikan dari masa kolonial Belanda. Meskipun pembangunan fisik relatif lamban dibandingkan di wilayah daratan, namun masyarakatnya cenderung makmur, lantaran kekayaan alam yang melimpah.
Baru, pada saat Orde Baru, tatanan yang ada mulai berubah, dengan dibukanya berbagai permukiman transmigrasi yang menyebar di Air Sugihan, Tulung Selapan, Sungai Menang dan Cengal. Para transmigran ini selain bersawah, menanam palawija, juga berkebun sawit.
Jurnalis dan Budayawan Taufik Wijaya (TW) yang sering keluar masuk wilayah ini mengatakan pada Tahun 1970-an, seiring dengan liberalisasi ekonomi dan “revolusi hijau”, pemerintah Orde Baru sangat gencar dengan aktifitas penebangan pohon untuk usaha perkayuan (HPH) baik legal maupun illegal dan pembukaan area persawahan.
Masa kejayaan ekonomi era boom kayu dapat dirasakan hingga 2000-an awal. Banyak orang kaya dari pantai timur. Mereka kaya dari berbisnis kayu, baik legal maupun illegal.
Empat kecamatan yang memiliki wilayah di pesisir timur Kabupaten OKI antara lain Kecamatan Sungai Menang, Cengal, Tulung Selapan dan Air Sugihan. Penduduknya pun multi etnik seperti Bugis, Melayu, Jawa dan Sunda. Mereka menempati desa-desa yang disebut dengan kuala di sepanjang garis pantai timur. Mata pencaharian utama mereka dominan dari hasil laut baik petambak maupun nelayan ikan tangkap ditambah dari hasil rumah rumah walet yang berdiri di tiap desa.
Secara ekonomi pendapatan sebagian besar masyarakat di wilayah ini cukup tinggi. Dalam satu kali panen tambak penghasilan mereka bisa puluhan juta rupiah sebagaimana di ceritakan Badrio Kepala Desa Sungai Sibur namun menurutnya pendapat mereka ini masih tidak seimbang dengan pengeluaran atas kebutuhan rumah tangga seperti minyak sayur, gula, dan bahan bakar minyak (BBM).
“Semua itu akibat akses transportasi yang lemah. Jika transportasi lancar, semua itu akan menjadi lebih baik. Pendapatan dan pengeluaran akan berimbang. Mahalnya kebutuhan yang tidak mereka hasilkan lantaran besarnya biaya transportasi. Begitu juga sebaliknya, produksi mereka dibeli rendah karena para pembeli mempertimbangkan ongkos transportasi,” kata Badrio.
Perjalanan menyusuri pesisir timur OKI diawali dari Desa Bumi Pratama Mandira Kecamatan Sungai Menang. Bumi Pratama Mandira terkenal dengan budidaya udang windu. Di lokasi tersebut hadir PT Wahyuni Mandira, perusahaan tambak udang terbesar di Asia Tenggara kala itu.
Namun memang pasca pemutusan PHK karyawan menunjukan bahwa perusahaan hampir bangkrut. Sehingga ditakutkan berdampak pada pembudidaya udang plasma di lokasi tersebut. Seperti masalah listrik sebagai alat pendukung budidaya untuk menghidupkan kincir air. “Sebelumnya sudah dikasih tahu oleh pihak perusahaan. Jadi untuk sementara kami mengurangi jumlah bibit,” ucap Wahab (48) salah satu pembudidaya plasma tambak udang, ditemui di sela-sela kunjungan Bupati OKI, H. Iskandar SE.
Biasanya menebar benih dengan adanya kincir bisa capai 200 ribu. Tapi kalau sekarang hanya sanggup 15 ribu-50 ribu karena tidak pakai kincir Lanjut Wahab yang sudah 20 tahun membudidaya udang. Tidak beroperasinya perusahaan menjadi ketakutan petani tambak tak bisa membudidaya lagi.
“setelah dipikir, kami malah bisa lebih mandiri. Jadi kami bangkit dan kami mulai mengatur sendiri budidaya udang disini,” tambahnya.
Bahkan menurut Wahab untuk penjualan udang, saat bisa diatur. Kalau sebelumnya untuk harga diatur dan penjualannya. Namun saat ini sudah seminggu sekali. “Kami bisa jual ketika harga udang tinggi. Kalau udang murah kami sekarang bisa menunggu untuk menjual,” ucapnya.
Lanjut dia, untuk benih, pakan dan penjualan masih dengan pihak perusahaan. Bedanya sekarang petani bisa berinovasi sendiri dan mengatur tambak sendiri. “Kalau untuk tambak memang milik perusahaan sedangkan untuk pengelolaan diserahkan kepada kami sendiri,” tambahnya.
Bagi para petambak budidaya tambak udang, bukan lagi jadi masalah. Namun yang jadi masalah ialah listrik dan pelayanan kesehatan serta air bersih. Karena ketika perusahaan kolaps, tiga masalah tersebut tak bisa diatasi lagi. “Dulu listrik siang malam hidup. Sekarang hanya malam. Air bersih ngalir sekarang air tergantung air hujan. Dulu ada balai pengobatan dari perusahaan tapi sekarang tidak ada lagi. P0skesdes sudah ada tapi saat ini belum dioperasi,” tambahnya.
Dibanding tahun-tahun sebelumnya, Infrastruktur dasar pedesaan pada desa-desa di pesisir timur OKI sudah cukup baik. Dana desa yang dikucurkan pemerintah sudah dimanfaatkan oleh masyarakat. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan (DPMPD) Kabupaten OKI, Nursula, S. Sos mengatakan desa-desa di pesisir OKI rata-rata sudah menerima Dana Desa di atas 1,2 Milyar rupiah. Tak ayal jalan-jalan titian yang dulunya bertiang kayu dan mudah lapuk kini sudah di cor beton dan lebih awet. Dermaga pelabuhan yang dimiliki desa sudah permanen. Ditambah fasilitas air bersih dan MCK juga sudah tersedia di tiap desa.
Di desa Pinang Indah Kecamatan Sungai Menang warga memanfaatkan dana desa untuk membangun balai terbuka dan dermaga desa. Tepat disamping balai terdapat lapangan voley yang di cor beton. Lapangan dan balai tersebut menjadi titik kumpul warga karena meski di diami ratusan KK rumah-rumah warga desa Pinang Indah terpencar di tambak-tambak ikan di sekeliling desa.
Di Desa Pinang Indah kami menginap di kediaman Daeng Tanto, Di banding rumah-rumah lain, rumah daeng Tanto terbilang mewah. Bangunanannya sudah permanen dua lantai berlantai keramik. Saat ditanya Daeng Tanto menceritakan bahan bangunan rumahnya di dapat dari Jakarta dan Mesuji Lampung. “Biaya angkutnya mahal mas” ujar Pria asal Sulawesi Selatan ini.
Daeng Tanto merupakan salah satu petambak yang sukses di Desa Pinang Indah. Dalam satu kali panen tambaknya menghasilkan puluhan juta rupiah. Dari hasil tambak ikan itu pula Daeng Tanto mampu menguliahkan dua anaknya di kota. Meski demikian, pendapatan itu menurut dia masih tidak sebanding dengan biaya produksi dan biaya angkut ke kota.
Sama dengan warga pesisir timur lainnya, Daeng Tanto berharap dibangunkan akses jalan dan penerangan listrik serta sarana telekomunikasi di desanya. “susah mau hubungi anak yang kuliah di kota” ungkapnya.
Dari Desa Pinang Indah kami bertolak menuju desa Sungai Sibur dan Desa Kuala Sungai Pasir. Garis pantai antara dua desa ini terkenal Indah. Pasirnya putih, ombaknya tidak terlalu besar. Sepanjang bibir pantai tumbuh batang nyiur dan bakau. Lokasi ini disebut warga setempat dengan Pantai Menjangan. Namun sayang kami tidak bisa mampir barang sejenak karena masih di tunggu warga di desa-desa berikutnya. Pantai berpasir putih itu hanya bisa dinikmati dari kejauhan.
Selang beberapa jam menyisir pantai kami sampai di Desa Sungai Lumpur Kecamatan Tulung Selapan. Sungai Lumpur merupakan desa yang paling ramai di wilayah pesisir timur OKI. Penduduknya ribuan jiwa bahkan sudah di- mekarkan menjadi dua desa. Paska kebakaran hebat enam tahun lalu, warga Sungai Lumpur bangkit. Geliat perekonomian pun melaju. Ini tampak dari pasar desa yang ramai dikunjungi warga. Barang yang di jual di pasar Sungai Lumpur rata-rata dari Jakarta maupun Bangka.
Dari Sungai Lumpur rombongan bertolak ke Desa Sungai Pedade atau Simpang Tiga Jaya Kecamatan Tulung Selapan. Di Desa Sungai Pedade warga juga sudah merasakan pembangunan. H. Geng tokoh masyarakat desa Sungai Pedade menyampaikan terimakasihnya kepada pemerintah atas sentuhan pembangunan yang mereka rasakan. “Kami yang terpencil ini jarang mendapat perhatian, namun sejak tiga tahun ini pembangunan desa bisa kami rasakan” Ungkapnya kepada Bupati OKI, H. Iskandar, SE saat mengunjungi dan menginap di Desa paling ujung di pesisir Timur OKI. Tetapi, menurut H. Geng penerangan listrik menjadi masalah warga desanya. Warga setempat bahkan harus merogoh hingga lima ratus ribu rupiah perbulan untuk membayar penerangan melalui pembangkit listrik tenaga diesel yang di dapat dari proyek PNPM tahun 2013.
Diujung sungai pedade masih terdapat satu dusun lagi, yaitu dusun Sungai Kong. Penduduknya mencapai 1.000 jiwa. Desa ini merupakan produsen terasi atau caluk Selapan yang tersohor. Ditiap rumah warga membuat caluk dari udang ragi yang dipermentasi.
Kondisi dusun ini cukup memprihatinkan. Dana desa belum bisa dinikmati masyarakat setempat karena masih menginduk ke desa Sungai Pedade. Camat Tulung Selapan, Jamil, S. Sos mengatakan warga desa Sungai Kong mengusulkan untuk menjadi desa defenitif. Namun karena moratorium pemekaran desa Sungai Kong belum bisa direalisasi.
Dusun Sungai Kong memiliki potensi Bahari. Jaraknya tidak jauh dari Pulau Maspari yang terkenal eksotis. Pulau Maspari memiliki luas perairan mencapai 14,6 hektare dan luas terumbu karang 10,3 ha serta pasir 11, 1 hektare. Dipulau ini terdapat penangkaran penyu dan konservasi.
Usai menyisir desa-desa sepanjang garis pantai timur OKI, speed boat melaju masuk melalui Kuala yang disebut dengan Kuala 12. Sepanjang kuala 12 terdapat perkampungan nelayan hingga tembus ke aliran sungai simpang tiga. Di simpang tiga Abadi atau sungai betok terdapat bangunan dermaga. Dermaga itu dihubungkan oleh jalan titian ke rumah-rumah penduduk.
Dari Sungai Betok kami menyusuri kanal dan turun di Pemukiman Transmigrasi Desa Rantau Lurus atau Simpang Tiga Jaya Makmur. Desa ini di huni penduduk asli dan warga transmigrasi asal Jawa Tengah. Fasilitas desa bisa dibilang lengkap. Di desa Rantau Lurus sudah ada jaringan listrik komunal sebesar 25 KWP yang menerangi 256 rumah warga di desa ini. Biaya penerangan yang mereka bayarkan pun tidak mahal hanya untuk biaya operator sebesar Rp 25.000 per bulan.
Jaringan listrik komunal ini diresmikan Bupati OKI, H. Iskandar, SE pada tahun 2015 lalu.
Dari rantau lurus rombongan bertolak ke Desa Simpang Tiga lalu menyusur sungai hingga ke Dermaga Tulung Selapan Ilir.
Perjalanan menyisir pesisir Timur OKI menyimpulkan pentingnya akses transportasi darat dan energi bagi masyarakat desa untuk mengentaskan mereka dari keterisoliran dari yang terbelakang menjadi yang terdepan.
“OKI wilayahnya sangat luas. Tiga tahun terakhir fokus saya membenahi desa, membuka akses bagi masyarakat di pesisir timur menjadi penting untuk mengentaskan mereka” Ungkap Bupati OKI, H. Iskandar saat dibincangi.
“Saya ingin mengembalikan kejayaan pesisir timur, kita harus jaya dilaut dan di darat,” kata Iskandar.
Teorinya, dengan akses transportasi yang terbuka, tumbuhnya potensi ekonomi bahari, maka wilayah pesisir timur itu akan tumbuh dan berkembang, sehingga berbagai aktifitas ekonomi akan berkembang.
Agenda itu menurut Iskandar sudah menjadi grand desain Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir bersama Menkokemaritiman Republik Indonesia untuk membuka akses ke pesisit timur OKI.
“Bersama pemerintah pusat kita sudah miliki grand desain untuk membuka akses jalur darat untuk mengentaskan masyarakat di Pesisir Timur ini dari keterisolasian” Ungkap Bupati Iskandar bersemangat.
Niatan baiknya itu menurut Iskandar di dukung penuh oleh Pemerintah Pusat di bawah koordinasi Menteri Koordinator Kemaritiman,Luhut Binsar Pandjaitan serta dukungan kementrian lain seperti Bappenas, DJA Kemenkeu, Kementrian PU PR, Kementerian ESDM dan KLHK.
“Beberapa kali kami sudah lakukan rapat koordinasi (Rakor) dengan pak Menko, kita usul untuk membuka akses infrastruktur ke pesisir timur OKI. Hasilnya kita di dukung” Ungkap Iskandar.
Rakor tidak lanjut percepatan sarana dan prasarana pendukung sektor kelautan dan perikanan di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir yang dilaksanakan pada September lalu menghasilkan beberapa putusan diantaranya membuka akses jalan penghubung dan jaringan listrik untuk pesisir timur OKI.
Akses jalur darat tersebut akan dimulai dari Pangkal Desa Talang Jaya Kecamatan Cengal menuju Desa Pratama Mandira sepanjang 70,3 Km yang terbagi menjadi tiga segmen, yaitu SP 1 Talang Jaya ke SP 4 Harapan Jaya sepanjang 20,7 Km kondisinya sudah dilakukan pengerasan sepanjang 18 Km, SP 4 Harapan Jaya menuju Sungai Ceper sepanjang 16,6 Km sudah dilakukan pengerasan baru sepanjang 5 km kemudian Sungai Ceper-Bumi Pratama Mandira sepanjang 32, sudah dilakukan pengerasan sepanjang 2,5 km dan masih diperlukan pembukaan jalan baru dari pangkal desa Bumi Pratama Mandira ke Ujung Tambak sepanjang 5 km.
Selain jalan akses listrik juga menjadi perhatian pemerintah untuk mengentaskan warga di wilayah ini. Adapun akses awal listrik untuk wilayah pesisir ini juga dimulai dari Desa Bumi Pratama Mandira yang sebelumnya sudah masuk daftar program pembangunan Listrik pada tahun 2018 tetapi terkendala belum adanya akses jalan.
Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Menko Kemaritiman, Agus Kuswandono mengatakan Kebutuhan listrik untuk desa ini mencapai 6 MW di tambah sekitar 10 MW untuk desa-desa di sekitar. Alternatif lain menurut pembangunan jaringan listrik untuk wilayah pesisir OKI melalui gardu induk Dipasena Kabupaten Tulang Bawang Provinsi Lampung dengan penambahan pemasangan jaringan sepanjang 22 km.
Rencana pengembangan jalur darat di Pesisir Timur OKI tentu sangat dinanti-nantikan masyarakat pesisir timur OKI agar Indonesia Jaya dilaut dan di Darat.
(Novi)
You may also like...
Pages
- Contact
- HUKUM & KRIMINALITAS
- Pedoman Pemberitaan Media Siber
- Redaksi Jurnalline
- 001/J/I/2015
- 002/J/I/2015
- 003/J/I/2015
- 004/J/III/2017
- 005/J/VII/2019
- 006/J/VII/2019
- 007/J/VII/2019
- 011/J/XII/2016
- 014/J/I/2015
- 015/J/VIII/2016
- 016/J/IX/2016
- 017/J/XII/2016
- 018/J/III/2017
- 019/J/III/2017
- 020/J/I/2017
- 021/J/VIII/2017
- 022/J/VII/2019
- 023/J/VIII/2020
- 024/J/XI/2021
- 025/J/VII/2021
- 026/J/XI/2021
- 027/J/XI/2021
- 028/J/XII/2021
- 029/J/XII/2021
- 030/J/I/2022
- 031/J/I/2022
- 032/J/III/2022
- 033/J/IV/2022
- 034/J/VI/2022
- 035/J/VI/2022
- 036/J/VI/2022
- 037/J/VII/2022
- 038/J/VII/2022
- 039/J/VIII/2022
- 040/J/VIII/2022
- 041/J/VIII/2022
- 042/J/I/2023
- 043/J/I/2023
- 044/J/VII/2023
- 045/J/VII/2023
- 045/J/VII/2023
- 046/J/IX/2023
- 047/J/X/2023
- 048/J/X/2025
- 049/J/XI/2025
- 050/J/II/2026
- 051/J/II/2026
- 052/J/II/2026
- Kode Etik Jurnalistik
- Sitemap
Archives
- September 2026
- August 2026
- July 2026
- June 2026
- May 2026
- April 2026
- March 2026
- February 2026
- January 2026
- December 2025
- November 2025
- October 2025
- September 2025
- August 2025
- July 2025
- June 2025
- May 2025
- April 2025
- March 2025
- February 2025
- January 2025
- December 2024
- November 2024
- October 2024
- September 2024
- August 2024
- July 2024
- June 2024
- May 2024
- April 2024
- March 2024
- February 2024
- January 2024
- December 2023
- November 2023
- October 2023
- September 2023
- August 2023
- July 2023
- June 2023
- May 2023
- April 2023
- March 2023
- February 2023
- January 2023
- December 2022
- November 2022
- October 2022
- September 2022
- August 2022
- July 2022
- June 2022
- May 2022
- April 2022
- March 2022
- February 2022
- January 2022
- December 2021
- November 2021
- October 2021
- September 2021
- August 2021
- July 2021
- June 2021
- May 2021
- April 2021
- March 2021
- February 2021
- January 2021
- December 2020
- November 2020
- October 2020
- September 2020
- August 2020
- July 2020
- June 2020
- May 2020
- April 2020
- March 2020
- February 2020
- January 2020
- December 2019
- November 2019
- October 2019
- September 2019
- August 2019
- July 2019
- June 2019
- May 2019
- April 2019
- March 2019
- February 2019
- January 2019
- December 2018
- November 2018
- October 2018
- September 2018
- August 2018
- July 2018
- June 2018
- May 2018
- April 2018
- March 2018
- February 2018
- January 2018
- December 2017
- November 2017
- October 2017
- September 2017
- August 2017
- July 2017
- June 2017
- May 2017
- April 2017
- March 2017
- February 2017
- January 2017
- December 2016
- November 2016
- October 2016
- September 2016
- August 2016
- July 2016
- June 2016
- May 2016
- April 2016
- March 2016
- February 2016
- January 2016
- December 2015
- November 2015
- October 2015
- September 2015
- August 2015
Categories
- AdvertNews (63)
- Ekonomi (41)
- Gaya Hidup (1,237)
- Hukum & Kriminalitas (2,010)
- Internasional (30)
- Nasional (84,575)
- KOARMABAR (117)
- KOLINLAMIL (51)
- PENKOSTRAD (20,880)
- Olahraga (603)
- Pariwisata & Budaya (15)
- Pendidikan (243)
- Peristiwa (496)
- Politik (558)
- Profil (3)
- Sains & Teknologi (1)
- SMSI (43)
- Uncategorized (909)

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE 81 Berita Terkini
- September 2, 2026
TNI AL MUSNAHKAN 1,4 JUTA BATANG ROKOK ILEGAL HASIL PENINDAKAN DI MERAUKE
- September 2, 2026
HPN 2027 Di Lampung Inklusif dan Kalaboratif
- September 2, 2026
Yudo Hermanto Resmi Jabat Kapolda Sulut, Roycke Harry Langie Jadi Astamaops Kapolri
- September 2, 2026
Pangdam XIII/Merdeka Tinjau Jembatan Perintis Garuda, Buka Akses dan Harapan Baru bagi Warga Kokoleh Satu
- September 2, 2026
Bensin Habis dan Tak Punya Uang Pulang, Warga Minta Bantuan Polisi via 110
- September 2, 2026
Copyright © 2017 Jurnalline Cyber Media
- Contact
- HUKUM & KRIMINALITAS
- Pedoman Pemberitaan Media Siber
- Redaksi Jurnalline
- 001/J/I/2015
- 002/J/I/2015
- 003/J/I/2015
- 004/J/III/2017
- 005/J/VII/2019
- 006/J/VII/2019
- 007/J/VII/2019
- 011/J/XII/2016
- 014/J/I/2015
- 015/J/VIII/2016
- 016/J/IX/2016
- 017/J/XII/2016
- 018/J/III/2017
- 019/J/III/2017
- 020/J/I/2017
- 021/J/VIII/2017
- 022/J/VII/2019
- 023/J/VIII/2020
- 024/J/XI/2021
- 025/J/VII/2021
- 026/J/XI/2021
- 027/J/XI/2021
- 028/J/XII/2021
- 029/J/XII/2021
- 030/J/I/2022
- 031/J/I/2022
- 032/J/III/2022
- 033/J/IV/2022
- 034/J/VI/2022
- 035/J/VI/2022
- 036/J/VI/2022
- 037/J/VII/2022
- 038/J/VII/2022
- 039/J/VIII/2022
- 040/J/VIII/2022
- 041/J/VIII/2022
- 042/J/I/2023
- 043/J/I/2023
- 044/J/VII/2023
- 045/J/VII/2023
- 045/J/VII/2023
- 046/J/IX/2023
- 047/J/X/2023
- 048/J/X/2025
- 049/J/XI/2025
- 050/J/II/2026
- 051/J/II/2026
- 052/J/II/2026
- Kode Etik Jurnalistik
- Sitemap



