Ketika Kuda Berlari, Ekonomi Rakyat Ikut Berlari

Spread the love

TOMPASO, Jurnalline.com – 

Dari Tompaso, Kita Belajar Bahwa Olahraga Bukan Sekadar Prestasi, tetapi Juga Penggerak Ekonomi.

Oleh: Dr. Drs. Audy Ronald Richard Pangemanan, AP, M.Si.

Plt. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sulawesi Utara.

Ribuan orang datang ke Tompaso untuk menyaksikan kuda-kuda terbaik Indonesia berpacu dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pacuan Kuda PORDASI ke-60 Seri II Tahun 2026. Mereka ingin merasakan ketegangan perlombaan, mendengar gemuruh penonton, dan menyaksikan para joki berjuang mencapai garis finis.

Namun, di balik kemeriahan arena pacuan kuda, ada cerita lain yang tidak kalah penting: pergerakan ekonomi rakyat.

Kemeriahan kejuaraan ini bukan hanya menghadirkan tontonan olahraga, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Warung-warung kecil kedatangan pembeli, penginapan menerima tamu, pedagang makanan meningkatkan penjualan, pengemudi memperoleh penumpang, dan tukang parkir mendapatkan penghasilan tambahan.

Bahkan, aktivitas ekonomi turut dirasakan oleh masyarakat yang menyediakan berbagai kebutuhan pendukung, mulai dari pakan kuda hingga perlengkapan selama kejuaraan berlangsung.

Sebab, ketika kuda berlari di lintasan Tompaso, sesungguhnya roda ekonomi masyarakat juga ikut berputar.

Ekonomi Bergerak Sejak Masa Persiapan

Menariknya, perputaran ekonomi tersebut tidak baru dimulai pada hari perlombaan.

Aktivitas itu telah berlangsung sejak berminggu-minggu sebelumnya, ketika rombongan pemilik kuda, joki, pelatih, perawat kuda, dan pendukung mulai berdatangan ke Sulawesi Utara.

Kehadiran mereka memunculkan kebutuhan terhadap berbagai layanan, seperti penginapan, makanan, transportasi, pakan, perawatan kuda, hingga perlengkapan pertandingan.

Setiap kebutuhan tersebut berpotensi menciptakan transaksi ekonomi yang melibatkan pelaku usaha dan masyarakat lokal.

Bayangkan berapa banyak transaksi yang berlangsung selama masa persiapan hingga kejuaraan berakhir.

Ketika hari perlombaan tiba, aktivitas ekonomi itu semakin terasa. Kawasan pacuan dipadati penonton yang datang dari berbagai daerah. Tiket tersedia dengan harga mulai Rp50.000 hingga Rp1.500.000, sementara masyarakat juga dapat menikmati kemeriahan melalui area festival gratis.

Di arena, sebanyak 89 kuda berlaga dalam 16 race untuk memperebutkan total hadiah Rp700 juta.

Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya skala penyelenggaraan kejuaraan. Namun, dampak ekonomi yang tercipta sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah kuda, banyaknya penonton, atau besarnya hadiah yang diperebutkan.

Nilai penting sebuah kejuaraan olahraga juga terletak pada seberapa besar manfaat ekonominya dirasakan masyarakat.

Potensi Perputaran Uang Mencapai Miliaran Rupiah

Untuk memahami besarnya peluang tersebut, kita dapat menggunakan simulasi sederhana dengan asumsi 15.000 pengunjung.

Belanja penonton untuk makanan, minuman, transportasi, dan kebutuhan lainnya, ditambah pengeluaran rombongan peserta untuk akomodasi, konsumsi, serta berbagai kebutuhan pendukung kejuaraan, berpotensi menghasilkan perputaran uang dalam jumlah besar, bahkan mencapai miliaran rupiah.

Tentu, angka tersebut masih berupa gambaran potensi berdasarkan asumsi, bukan hasil penghitungan resmi. Besarnya dampak ekonomi yang sesungguhnya perlu diketahui melalui pendataan jumlah pengunjung, rata-rata pengeluaran, lama tinggal, tingkat hunian penginapan, serta omzet pelaku usaha sebelum dan selama kegiatan.

Meski demikian, simulasi tersebut memberikan gambaran bahwa sebuah kejuaraan olahraga dapat menjadi instrumen penting untuk menggerakkan ekonomi daerah.

Terlebih lagi, penerima manfaatnya bukan hanya atlet, pemilik kuda, dan penyelenggara. Masyarakat kecil yang menjalankan usaha di sekitar lokasi kegiatan juga memiliki kesempatan untuk memperoleh tambahan pendapatan.

Seorang ibu yang menjual makanan bisa membawa pulang hasil penjualan lebih besar. Pemilik homestay memperoleh tamu tambahan. Pedagang membeli lebih banyak bahan dagangan. Pengemudi mendapatkan penumpang, sedangkan pekerja harian memperoleh kesempatan bekerja.

Penghasilan yang diterima masyarakat kemudian digunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membeli barang atau jasa lainnya.

Dari satu transaksi, lahir transaksi berikutnya. Dari satu kegiatan olahraga, terbuka peluang bagi berbagai usaha.

Inilah yang dikenal sebagai efek pengganda ekonomi (multiplier effect), ketika aktivitas ekonomi awal mendorong kegiatan ekonomi lanjutan dan memperluas manfaat bagi berbagai pihak.

Olahraga Harus Memberikan Manfaat Nyata bagi Rakyat

Perspektif inilah yang perlu terus dikembangkan dalam pembangunan olahraga di Sulawesi Utara.

Sejalan dengan visi Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus Komaling, S.E., penyelenggaraan kegiatan olahraga perlu memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar pencapaian prestasi.

Olahraga harus mampu menjadi bagian dari penggerak perekonomian daerah, membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, keberhasilan suatu kejuaraan tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah peserta, penonton, medali, atau besarnya hadiah.

Kita juga perlu melihat berapa banyak masyarakat yang memperoleh manfaat, berapa banyak kamar penginapan yang terisi, seberapa besar peningkatan omzet UMKM, berapa lama pengunjung tinggal, serta berapa banyak uang yang benar-benar beredar di daerah.

Ukuran-ukuran tersebut penting agar penyelenggaraan olahraga tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi investasi sosial dan ekonomi yang memberikan hasil nyata bagi masyarakat.

Dalam konteks ini, Tompaso memiliki peluang besar untuk mengembangkan potensi tersebut.

Tompaso dan Masa Depan Sport Tourism Sulawesi Utara

Pacuan kuda dapat menjadi salah satu daya tarik utama dalam pengembangan sport tourism atau wisata olahraga di Sulawesi Utara.

Konsep ini memungkinkan masyarakat datang bukan hanya untuk menyaksikan pertandingan, tetapi juga menikmati kuliner lokal, keindahan alam, kekayaan budaya, serta keramahan masyarakat Minahasa.

Bayangkan jika kejuaraan pacuan kuda diselenggarakan secara teratur, masuk dalam kalender olahraga nasional, didukung infrastruktur yang memadai, dan terintegrasi dengan paket wisata daerah.

Tompaso tidak hanya ramai ketika perlombaan berlangsung.

Daerah ini berpeluang tumbuh menjadi destinasi yang terus menarik kunjungan wisatawan dan penggemar olahraga berkuda.

Hotel dan homestay dapat memperoleh pasar yang lebih pasti. Pelaku UMKM bisa mempersiapkan produk dan layanan mereka secara lebih terencana. Kesempatan kerja semakin terbuka, sementara usaha pendukung olahraga berkuda berpeluang berkembang.

Tentu, potensi tersebut tidak akan terwujud dengan sendirinya.

Diperlukan perencanaan yang matang, pengelolaan profesional, promosi berkelanjutan, kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, serta dukungan infrastruktur yang memadai.

Yang tidak kalah penting, masyarakat lokal harus ditempatkan sebagai bagian utama dari ekosistem ekonomi yang dibangun.

Pelaku UMKM perlu mendapat ruang untuk berusaha. Produk lokal perlu dipromosikan. Peluang kerja harus terbuka bagi masyarakat sekitar, dan aktivitas wisata harus memberikan manfaat yang sepadan bagi daerah tuan rumah.

Dengan demikian, keberhasilan penyelenggaraan kejuaraan tidak hanya terlihat ketika arena dipenuhi penonton, tetapi juga ketika manfaatnya dirasakan oleh masyarakat setelah kegiatan berakhir.

Kemenangan Terbesar Adalah Kesejahteraan Masyarakat

Pada akhirnya, kita mungkin akan mengingat kuda yang menjadi juara, joki yang tercepat, dan peserta yang pertama menyentuh garis finis.

Namun, beberapa hari setelah tribun kembali sepi dan gemuruh penonton menghilang, ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk dijawab:

Apa yang ditinggalkan kejuaraan ini bagi masyarakat Tompaso dan Sulawesi Utara?

Apakah penghasilan masyarakat meningkat? Apakah UMKM memperoleh pasar baru? Apakah kunjungan wisata bertambah? Apakah kesempatan kerja semakin terbuka? Dan apakah perputaran ekonomi yang tercipta mampu memberikan manfaat berkelanjutan?

Jika kejuaraan ini mampu mendorong perubahan nyata dalam aspek-aspek tersebut, maka kita telah memperoleh kemenangan yang jauh lebih besar daripada sekadar piala.

Inilah kekuatan olahraga ketika dikelola dengan visi yang tepat. Olahraga bukan hanya tentang siapa yang tercepat, siapa yang terkuat, atau siapa yang menjadi juara. Olahraga juga dapat menjadi jalan untuk membuka peluang, menggerakkan usaha, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dari lintasan pacuan kuda di Tompaso, kita belajar bahwa prestasi olahraga dan kemajuan ekonomi rakyat dapat berjalan beriringan.

Inilah peluang besar bagi pengembangan sport tourism di Sulawesi Utara.

Kuda boleh berhenti berlari setelah melewati garis finis. Namun, roda ekonomi rakyat harus terus bergerak, bahkan setelah perlombaan berakhir.

Salam Olahraga… Jaya!

(EffendyIskandar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.