Pintu Air 10 Cisadane Mengering, Tangerang Raya Krisis Air Bersih

Spread the love

Jurnalline.com, Tangerang — Krisis air bersih mulai terjadi di Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang. Sejak Rabu (29/7) hingga sekarang, layanan air bersih kepada pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Benteng Kota Tangerang (PDAM – TB) dan PDAM Tirta Kerta Raharja (PDAM – TKR) Kabupaten Tangerang terganggu.

Hal itu disebabkan karena jebolnya pintu air 4 & 6 di Bendungan Pintu Air 10, yang berdampak kekeringan air bersih di wilayah Tangerang raya, Gangguan ini terjadi setelah Sungai Cisadane, yang menjadi sumber air baku utama kedua PDAM itu, mulai mengering akibat musim kemarau. Sehingga, sebagian besar pelanggan tak mendapatkan air bersih.

sungai cisadane kekering akibat pintu air 10 jebol

Lia (36 Th), warga Perumahan Villa Taman Cibodas, Kota Tangerang, mengaku, air bersih yang disalurkan oleh PDAM tidak mengalir sejak Selasa (11/8).

“Sampai sekarang air belum mengalir. Kami terpaksa beli air di tukang air keliling untuk mandi. Untuk masak pakai air galon, Malah sejumlah warga lainnya bahkan antri air bersih yang bersumber dari sumur di masjid. Begitu habis shalat subuh warga berbondong bondong mengantri air bersih tersebut,” ujar ibu rumah tangga itu, Kamis Sore (13/08).

Terkait kondisi ini, PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang mensiagakan 21 mobil tangki air guna memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

“Mobil tangki berisi air bersih, Mobil Tangki tersebut dapat pinjaman dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan sebanyak 11 unit, Dinas Pemadam Kebakaran sebanyak 6 unit, Pemerintah Provinsi Banten meminjam kendaraan sebanyak 1 unit, serta milik PDAM Tirta Benteng 3 unit,” kata Kepala Hubungan Masyarakat dan Pelanggan PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang, Budi, Kamis (13/08).

Budi mengutarakan kembali, warga yang kekurangan air bersih diharapkan melapor ke kelurahan atau kecamatan setempat. Pemerintah setempat akan melanjutkan laporan tersebut kepada PDAM Tirta Benteng (PDAM-TB).

Selain karena turunnya debit air Sungai Cisadane, pasokan air baku PDAM ini juga terganggu akibat kerusakan pintu ke – empat dan enam di Bendungan Pasar Baru di aliran Sungai Cisadane. Kerusakan itu belum diperbaiki sampai sekarang.

“Pasokan air ke intake PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang menurun hingga 50 persen dari pasokan awal sebanyak 450 liter per detik. Itu pun sudah dibantu tujuh pompa dari Provinsi Banten dan Pemkot Tangerang sehingga air bisa dipompa masuk ke intake PDAM,” kata Humas PDAM-TB .

Kepala Subbagian Humas PDAM Tirta Kerta Raharja Kabupaten Tangerang Febi Wibowo menambahkan, dalam tiga hari terakhir pasokan air dari Sungai Cisadane ke intake fasilitas pengolahan air di Cikokol, Kabupaten Tangerang, bahkan sama sekali tidak ada.

Menurut Kepala Bidang Sumber Daya Alam Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangerang Taufik Syahzaeni mengakui, pintu air yang rusak di Bendungan Pasar Baru belum bisa diperbaiki.

“Pintu yang rusak ini sedang dalam tahapan fabrikasi di Tegal. Menurut rencana, Jumat nanti pintu baru akan dikirim. Sabtu mulai dipasang,” kata Taufik.

Sumur mengering dampak kemarau juga membuat warga Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Sejumlah warga terpaksa membuat sumur bor baru karena sumur lama sudah minim cadangan airnya.

“Saya terpaksa bor sumur baru karena sumur yang lama kering. Airnya hanya bisa keluar selama beberapa menit setelah menyalakan pompa, warga lainnya juga melakukan pengeboran sumur baru dirumahnya karena debit air sumur yang lama sudah mengecil, sejak tinggal disini dari tahun 2010, baru pertama kali (Kekeringan) seperti ini,” ujar Sutriadi, Warga RT 001 RW 013 Kelurahan Pondok Cabe Udik, Kecamatan Pamulang, Tangsel, Kamis (14 /08).

Sutriadi mengatakan, kali ini ia berniat mengebor sumur hingga kedalaman 40 meter dengan harapan cadangan airnya lebih banyak daripada sumur lamanya.

Setidaknya ada tiga warga RT tersebut yang mengebor sumur baru atau memperdalam sumur lama. Padahal, pada musim kemarau tahun-tahun sebelumnya, tidak ada warga yang mengalami kekeringan di sumurnya.

Ditempat yang berbeda, Kepala Kantor Sumber Daya Air Balai Kecil Prov. Banten tidak ada di tempat, dengan berbagai alasan bahwa para petinggi di kantor ini sedang di Balai Besar SDA Prov. Banten sedang membahas cara perbaikan dan perawatan nya.

“Kami tidak berani memberikan statement lebih jauh tentang pemeliharaan dan perawatan pintu air 10, bendungan cisadane –pasar baru. kami tidak bisa juga menjelaskan terlalu anggaran lainnya yang di kelola oleh Balai Kecil SDA Prov. Banten,” ungkap staff yang namanya tidak mau disebutkan.

Diduga, Anggaran pememliharaan dan perawatan pintu air 10, di bendungan pasar baru- cisadane raib tak jelas dimakan kemana ??? Anggaran Mou antara Prov. Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat perihal Bendungan Air/ Drainase/Sungai dan Bendungan yang telah ditanda tanggani kontrak sejak tahun 2013, dengan di wakili oleh Walikota Tangerang , Walikota Depok dan Walikota Bekasi.

Anggaran yang disepakati tersebut, raib begitu saja tak adanya penjelasan dari Balai Besar SDA Prov. Banten

(DIE 007 & Dian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.