Ken Setiawan: Bersihkan Paham Radikal di Lingkungan Pendidikan

Spread the love

Jurnalline.com, Jakarta – Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan kegiatan diseminasi Program Pembinaan Peserta Didik SMA dan turut menghadirkan narasumber dalam menyajikan materi yang berkaitan dengan penyelesaian masalah radikalisme dan perilaku menyimpang pada remaja.

Salah satu narasumber adalah Ken Setiawan, mantan pelaku Radikal NII (Negara Islam Indonesia) yang kini aktif dalam organisasi NII Crisis Center atau Pusat rehabilitasi korban NII.

Ken membeberkan kepada para guru bagaimana faham radikal dapat mempengaruhi para guru dan pelajar dan cara bagaimana menangkalnya.

Menurut Ken, pendidikan bukan hanya mengembangkan aspek kognitif. Idealnya, pendidikan mampu membantu perkembangan manusia seutuhnya, meliputi fisik, psikologis, sosial, dan religius.

Sekolah merupakan salah satu tempat bagi anak dan remaja untuk tumbuh dan berkembang bersama dengan keluarga dan lingkungan. Sekolah diharapkan mampu mendukung perkembangan anak dan remaja secara utuh dan seimbang.

Namun di sisi lain, tak sedikit anak dan remaja yang setiap hari bergulat dengan berbagai permasalahan masing masing.

Tidak jarang muncul berbagai permasalahan kesiswaan, misalnya tindak kekerasan, perkelahian antar pelajar, bullying, masuknya paham radikal kepada siswa, penyimpangan perilaku seksual, penyalahgunaan narkoba, radikalisme dan lain-lain.

Berkaitan dengan permasalahan radikalisme di kalangan siswa, Ken Setiawan seorang mantan pendiri kelompok Negara Islam Indonesia (NII) mengatakan, bahwa sasaran rekrutmen NII sebagian besar adalah kalangan pendidiakan, guru dan pelajar.

Artinya kalangan pendidikan cukup besar potensinya, mengingat disanalah tempat ide, gagasan dan pencarian jati diri bagi para pelajar.

“Kenapa generasi muda menjadi sasaran rekruitmen kelompok radikal dan terorisme? Remaja masih memiliki karakter yang labil dan masih dalam pencarian jati diri. Usia remaja rentan terhadap masuknya pengaruh dari luar, termasuk radikal,” tandas Ken Setiawan.

Ken mengaku, sebelumnya NII Crisis Center mendapat laporan dan menangani 15 pelajar berprestasi yang menjadi duta altet untuk persiapan PON 2020 positif terpapar paham radikal dan anti Pancasila.

Di Bogor, Ken malah kaget ada laporan di salah satu sekolah ada 10 guru yg positif juga terpapar radikalisme.

Di Lampung Selatan juga Ken mendapat laporan ada guru ASN yang positif anti Pancasila, dibuktikan dengan status yang bersangkutan tentang khilafah, anti pemerintah dan anti Pancasila.

Ken membeberkan pola dan cara yang biasa dipakai kelompok-kelompok radikal anti NKRI saat merekrut anggotanya.

Salah satu cara yang dipakai adalah dengan mencuci otak sasaran yang akan direkrut. Ia mencontohkan model perekrutan oleh NII, sebagaimana yang pernah ia lakukan beberapa tahun silam.

Media sosial menurut Ken sangat evektif untuk mencari simpatisan yang seemikiran, selanjutnya discreaning dan di tindaklanjuti dengan perekrutan.

Sebelum merekrut, akan dilakukan ‘screening’ terlebih dahulu terhadap orang yang akan direkrut. “Kita pelajari aktivitas kesehariannya, pekerjaannya apa, bagaimana keluarganya, hobinya apa, dan sebagainya. Jelas Ken.

Dengan mengetahui berbagai latar belakang calon target, maka proses perekrutan akan lebih mudah. Termasuk bagaimana menentukan model perekrutan,” ungkapnya.

Ken mengajak para guru yang menjadi peserta agar waspada terhadap faham radikalisme di kalangan siswa.

Cara mengantisipasi terjerumusnya anak muda ke dalam faham radikal adalah dengan mengalihkan mereka pada kegiatan-kegiatan yang lebih positif. “Anak-anak muda jadi lebih terarah dengan memperbanyak kegiatan positif, apa yang disukai oleh anak muda agar diberi wadah.

Laporkan ke aparat bila ada kegiatan yang sudah mengarah pada hal yang radikal dan anti Pancasila.

Kalau perlu kegiatannya digelar berkelanjutan, misalnya Akademi Futsal yang dilanjut dengan Liga Futsal, jadi tidak hanya seremonial tapi berlanjut, sehingga tidak ada lagi waktu luang bagi mereka untuk mengarah ke faham radikal, narkoba, dan kenakalan remaja lainnya.” Katanya.

Bagi Ken Setiawan, Nasionalisme bukan hanya muncul ketika budaya kita di klaim negara tetangga, tapi nasionalisme adalah merasa ada ancaman dan jadi kita harus waspada.

“Ancaman yang siap menerkam generasi muda kita sudah jelas, mulai radikalisme, narkoba, pornografi. dll. Bila kita tidak waspada maka bisa keluarga dan orang terdekat dilingkungan kita bisa menjadi korbannya.”

Penulis : Khnza
Editor : Ndre
Sumber : Hms

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.