Efektivitas Penyampaian Pesan tentang “Normal Baru”
June 10, 2020- Tweet
- Pin It
Jurnalline.com, TAK sekali dua kali, saya berhadapan dengan kawan-kawan yang bersikap “enteng”. Bedakan dulu, pengertian “enteng” itu bukan “rileks”. Dia — atau mereka — berada di tengah kerumunan dan mengatakan, “Jangan terlalu dibikin susahlah, kita tidak perlu ketakutan berlebih…”
Atau ada juga kawan yang meyakinkan kita, sering memaksa mengajak berjabat tangan dengan berujar, “Tidak apa-apa, kenapa terlalu ketakutan?”
Persoalannya bukanlah ketakutan atau takut berlebih. Saya menemukan ungkapan-ungkapan body language yang mengesankan keengganan menjaga jarak fisik di sejumlah titik kumpul manusia, bahkan termasuk di beberapa lokasi penerimaan bantuan sosial untuk warga yang terdampak pandemi Covid-19.
Pada Selasa 9 Juni lalu, saya menyimak berita di sebuah portal online, berisi respons warganet terhadap perkembangan angka positif Corona yang menembus angka harian 1.000 pasien. Berita yang beraksen kegalauan itu memantik pertanyaan, siapakah yang harus bertanggung jawab untuk menjaga agar pesan-pesan kewaspadaan secara efektif sampai dan dijalankan oleh warga masyarakat?
Sejumlah potret nyata aktivitas di tingkat masyarakat juga menimbulkan kegelisahan, seperti itukah praksis penerapan “new normal”? Yakni beradaptasi dengan kondisi pandemi virus Corona, dalam disiplin kontrol protokol kesehatan?.
Sosialisasinyakah yang kurang masif? Bentuk-bentuk penyampaian pesannyakah yang kurang efektif? Kebijakan pemerintah yang saling bertubrukan dan tidak konsistenkah penyebabnya? Jejaring informasinyakah yang tidak menebar seperti yang diharapkan? Media massa yang kurang pas menyampaikan pesan-pesan, dengan lebih memprioritaskan angle kepentingan politik? Media sosial yang lebih mengumbar informasi-informasi tidak akurat? Atau sebagian anggota masyarakat yang memang bersikap masa bodoh?
Naluri jurnalistik saya mencoba memotret kondisi penyampaian pesan seputar Covid-19 itu dengan melihat, mengamati, menguping secukupnya, bertanya, lalu memetakan sikap antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok lainnya.
Dari pencermatan sejak masa-masa pandemi Corona dengan masivitas kampanye menjaga jarak fisik dan jarak sosial, tak bisa ditampik bahwa tanggung jawab penyampaian pesan pengamanan memfokus ke tiga elemen, yakni pemerintah, media, dan masyarakat sendiri.
Elemen Pertama, Pemerintah
Kebijakan-kebijakan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus, disosialisasikan pemerintah lewat jejaring aparatus. Struktur ideal penyampaian pesan itu adalah melalui level-level birokrasi yang dikendalikan oleh gugus tugas khusus. Apakah garis sosialisasi itu sudah cukup efektif?.
Idealnya, kontrol pimpinan daerah menjadi pemotret dan pengevaluasi kondisi riil efektivitas penyampaian pesan. Kepala daerah yang rajin mendatangi lorong-lorong keseharian kehidupan publik akan mendapat gambaran nyata sejauh mana masyarakat memahami sikap dan perilaku yang tepat pada masa pandemi dan pelaksanaan “new normal”.
Kemauan untuk bergerak memberi teladan sikap juga sangat menentukan dalam penyampaian kebijakan dan mentransformasikan adaptasi sikap dalam normal baru. Misalnya, ketika Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menggelar “Panggung Kahanan” untuk mengakomodasi ekspresi ide dan karya para seniman, aksennya adalah transformasi adaptasi.
Bukan sekadar ketersediaan ruang bagi para seniman dan aktivis kebudayaan dalam “kahanan” (kondisi) keterbatasan, melainkan yang tersirat (dan tersurat) adalah bahasa pesan. Yakni kita tetap dapat berkegiatan, menjaga jarak fisik yang ideal, dan disiplin mematuhi protokol keamanan kesehatan.
Siratan pesan “Panggung Kahanan” itu, ketika ekspresi berkesenian — yang juga dibalut dengan format daring — bisa dikemas aman, “panggung-panggung kehidupan” yang lain juga bisa beraktivitas secara adaptif, baik dunia olahraga, pekerjaan kantor, peribadatan, perniagaan, dan sebagainya.
Pimpinan yang hanya di belakang meja dalam mengontrol dinamika pelaksanaan normal baru tidak akan memperoleh potret genuine sikap warga.
Dalam kondisi luar biasa ini, dibutuhkan mindset perilaku kasual, akrab, dan gaya yang mudah dicerna masyarakat. Dia akan cepat merumuskan simpulan: apakah ada yang salah dalam komunikasi penyampaian kebijakan? Apa yang keliru sehingga banyak warga yang masih “menganggap enteng”? Apa yang harus diperbaiki, ditekankan, dan dijaga?.
Pilihan berkomunikasi secara karib itu meniscayakan kemungkinan untuk meyakinkan elemen-elemen masyarakat agar memberi dukungan mentransformasikan ide, sikap, dan perilaku. Sikap kasual akan mempercepat keputusan melintas dalam gerak kebijakan, dan tahu titik kelemahan apa yang — misalnya — membuat pesan-pesan adaptasi menuju normal baru itu belum efektif.
Elemen Kedua, Media
Media, dalam simpulan berbagai opini, mengklaim berada di garis depan bersama pemerintah menyosialisasikan kebijakan dan pesan-pesan terkait pandemi Covid-19.
Mengukur efektif atau belum efektif pemberitaan media tentu tidak mudah, termasuk jika membandingkan dengan potret realitas perilaku sebagian warga yang seolah-olah “aman-aman saja” atau tidak mengkhawatirkan apa pun.
Media memang tidak boleh menciptakan atmosfer horor, kecemasan, dan pesimisme.
Pemberitaan dalam suasana seperti sekarang perlu terus didorong menjadi forum yang mengedukasi masyarakat. Informasi setiap perkembangan memuat makna pendidikan yang menginspirasi, bukan untuk menakut-nakuti. Efek yang diidealkan dari sebuah berita adalah tumbuhnya pemahaman, serapan pengetahuan, serta ajakan untuk membangun sikap dan perilaku yang tepat.
Tidak sedikit media yang memilih angle pemberitaan tentang polemik ketidakkonsistenan pemerintah, antara lain narasi konflik antara Pemerintah Pusat dengan Gubernur DKI Jakarta, atau antara Gubernur Jawa Timur dengan Wali Kota Surabaya. Tentu pilihan sudut pandang itu merupakan hak politik pemberitaan newsroom setiap media, akan tetapi kita akan tetap menemukan nilai kemaslahatan sosial manakala memberi penekanan pada orientasi jalan keluar, bukan pada aksen saling menyalahkan dan warna-warni opini buzzer yang berebut ruang beradu kuat.
Titik temu menuju kemaslahatan itu adalah, di tengah dinamika warna-warni manajemen penanganan pengendalian virus Corona, media tetap berkeyakinan memberi informasi-informasi yang mengajak, memersuasi, dan mendorong warga masyarakat untuk berdisiplin mematuhi protokol kesehatan, dan bersama-sama menjaga atmosfer manajemen pencegahan persebaran yang di Jawa Tengah diberi label “Jaga Tangga”.
Elemen Ketiga, Masyarakat
Pesan kebijakan yang sepenuhnya tidak sampai, dan transformasi sikap yang tidak menyentuh akan kembali pada pertanyaan ini: apakah karena ketidakefektifan penyampaian pesan? Apakah karena mindset penerimaan masyarakat?
Potret realitas ketidakdisiplinan warga di sana-sini tentu bukan sepenuhnya salah warga. Pemimpin yang baik akan memulai penilaian dari struktur aliran pesan: mengapa tidak efektif? Maka merunut alur dengan secara short cut menguji langsung, mendatangi lorong-lorong kantung masyarakat, merupakan pilihan. Dia akan mendengar langsung problem-problem yang dihadapi warganya.
Sikap kasual pemimpin juga merupakan bentuk tidak langsung aktivitas literasi informasi. Dia akan menjadi corong utama yang mengecek, apakah sosialisasi kebijakan lewat struktur birokrasi sudah pas dijalankan? Dia bisa bertanya langsung kepada masyarakat, akses informasi tentang Covid-19 didapat dari mana saja? Apakah dari media mainstream? Atau dari aneka platform media sosial, yang berkeniscayaan menciptakan bias dengan bumbu-bumbu hoaks?.
Dalam percakapan grup-grup komunikasi warga, sering mencuat ketidakpercayaan kepada berita-berita media mainstream. Banyak muncul celetukan yang melawan informasi-informasi yang sebenarnya sudah terverifikasi secara akurat. Di balik sikap skeptis itu sesungguhnya memuat hal yang baik, yakni kebutuhan tabayyun dan mengingatkan media untuk berdisiplin pada mekanisme verifikasi jurnalistik.
Praksis jurnalistik sekaligus juga memberi pembelajaran kepada warga untuk menjadikan berita media massa sebagai penjernih ketika muncul kesilangpaduan informasi dari media-media sosial. Sedangkan bagian dari elemen warga yang punya kekuatan membangun opini seperti masyarakat akademis, ormas, dan para tokoh masyarakat, juga berkewajiban moral untuk menjadi penjernih.
Akhirul kalam, masyarakat akan cenderung mematuhi disiplin protokol kesehatan apabila mendapat contoh dan keteladanan dari orang-orang yang ditokohkan dan diidolakan. Tentu dengan informasi yang disampaikan sebagai pesan yang logis dan tidak bertabrakan antarkebijakan pada level-level tertentu.
— Amir Machmud NS, wartawan SUARABARU.ID dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah.
Penulis : Fram
Editor : Ndre
Sumber : Oleh Amir Machmud NS
You may also like...
Pages
- Contact
- HUKUM & KRIMINALITAS
- Pedoman Pemberitaan Media Siber
- Redaksi Jurnalline
- 001/J/I/2015
- 002/J/I/2015
- 003/J/I/2015
- 004/J/III/2017
- 005/J/VII/2019
- 006/J/VII/2019
- 007/J/VII/2019
- 011/J/XII/2016
- 014/J/I/2015
- 015/J/VIII/2016
- 016/J/IX/2016
- 017/J/XII/2016
- 018/J/III/2017
- 019/J/III/2017
- 020/J/I/2017
- 021/J/VIII/2017
- 022/J/VII/2019
- 023/J/VIII/2020
- 024/J/XI/2021
- 025/J/VII/2021
- 026/J/XI/2021
- 027/J/XI/2021
- 028/J/XII/2021
- 029/J/XII/2021
- 030/J/I/2022
- 031/J/I/2022
- 032/J/III/2022
- 033/J/IV/2022
- 034/J/VI/2022
- 035/J/VI/2022
- 036/J/VI/2022
- 037/J/VII/2022
- 038/J/VII/2022
- 039/J/VIII/2022
- 040/J/VIII/2022
- 041/J/VIII/2022
- 042/J/I/2023
- 043/J/I/2023
- 044/J/VII/2023
- 045/J/VII/2023
- 045/J/VII/2023
- 046/J/IX/2023
- 047/J/X/2023
- 048/J/X/2025
- 049/J/XI/2025
- 050/J/II/2026
- 051/J/II/2026
- 052/J/II/2026
- Kode Etik Jurnalistik
- Sitemap
Archives
- August 2026
- July 2026
- June 2026
- May 2026
- April 2026
- March 2026
- February 2026
- January 2026
- December 2025
- November 2025
- October 2025
- September 2025
- August 2025
- July 2025
- June 2025
- May 2025
- April 2025
- March 2025
- February 2025
- January 2025
- December 2024
- November 2024
- October 2024
- September 2024
- August 2024
- July 2024
- June 2024
- May 2024
- April 2024
- March 2024
- February 2024
- January 2024
- December 2023
- November 2023
- October 2023
- September 2023
- August 2023
- July 2023
- June 2023
- May 2023
- April 2023
- March 2023
- February 2023
- January 2023
- December 2022
- November 2022
- October 2022
- September 2022
- August 2022
- July 2022
- June 2022
- May 2022
- April 2022
- March 2022
- February 2022
- January 2022
- December 2021
- November 2021
- October 2021
- September 2021
- August 2021
- July 2021
- June 2021
- May 2021
- April 2021
- March 2021
- February 2021
- January 2021
- December 2020
- November 2020
- October 2020
- September 2020
- August 2020
- July 2020
- June 2020
- May 2020
- April 2020
- March 2020
- February 2020
- January 2020
- December 2019
- November 2019
- October 2019
- September 2019
- August 2019
- July 2019
- June 2019
- May 2019
- April 2019
- March 2019
- February 2019
- January 2019
- December 2018
- November 2018
- October 2018
- September 2018
- August 2018
- July 2018
- June 2018
- May 2018
- April 2018
- March 2018
- February 2018
- January 2018
- December 2017
- November 2017
- October 2017
- September 2017
- August 2017
- July 2017
- June 2017
- May 2017
- April 2017
- March 2017
- February 2017
- January 2017
- December 2016
- November 2016
- October 2016
- September 2016
- August 2016
- July 2016
- June 2016
- May 2016
- April 2016
- March 2016
- February 2016
- January 2016
- December 2015
- November 2015
- October 2015
- September 2015
- August 2015
Categories
- AdvertNews (63)
- Ekonomi (41)
- Gaya Hidup (1,237)
- Hukum & Kriminalitas (2,005)
- Internasional (30)
- Nasional (84,428)
- KOARMABAR (117)
- KOLINLAMIL (51)
- PENKOSTRAD (20,836)
- Olahraga (602)
- Pariwisata & Budaya (15)
- Pendidikan (243)
- Peristiwa (494)
- Politik (558)
- Profil (3)
- Sains & Teknologi (1)
- SMSI (43)
- Uncategorized (909)

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE 81 Berita Terkini
- August 25, 2026
Pemdes Kopiwangker Maksimalkan Program Desa Meski Ada Efesiensi Anggaran
- August 25, 2026
Frolly Robiah, SDN Kopiwangker Dapat Revitalisasi Rehab Bangunan Sekolah Tahun 2026
- August 25, 2026
Pangdam XIII/Merdeka Pimpin Pantukhir 120 Casis Caba – PK TNI AD Gelombang III TA 2026
- August 25, 2026
Peresmian PTSP dan Tempat Ibadah Jadi Bagian Pembinaan Mental dan Penguatan Integritas
- August 25, 2026
Juen Hanna Monagin, Pemdes Amongena III Salurkan Beras Pangan 103 KPM
- August 25, 2026
Copyright © 2017 Jurnalline Cyber Media
- Contact
- HUKUM & KRIMINALITAS
- Pedoman Pemberitaan Media Siber
- Redaksi Jurnalline
- 001/J/I/2015
- 002/J/I/2015
- 003/J/I/2015
- 004/J/III/2017
- 005/J/VII/2019
- 006/J/VII/2019
- 007/J/VII/2019
- 011/J/XII/2016
- 014/J/I/2015
- 015/J/VIII/2016
- 016/J/IX/2016
- 017/J/XII/2016
- 018/J/III/2017
- 019/J/III/2017
- 020/J/I/2017
- 021/J/VIII/2017
- 022/J/VII/2019
- 023/J/VIII/2020
- 024/J/XI/2021
- 025/J/VII/2021
- 026/J/XI/2021
- 027/J/XI/2021
- 028/J/XII/2021
- 029/J/XII/2021
- 030/J/I/2022
- 031/J/I/2022
- 032/J/III/2022
- 033/J/IV/2022
- 034/J/VI/2022
- 035/J/VI/2022
- 036/J/VI/2022
- 037/J/VII/2022
- 038/J/VII/2022
- 039/J/VIII/2022
- 040/J/VIII/2022
- 041/J/VIII/2022
- 042/J/I/2023
- 043/J/I/2023
- 044/J/VII/2023
- 045/J/VII/2023
- 045/J/VII/2023
- 046/J/IX/2023
- 047/J/X/2023
- 048/J/X/2025
- 049/J/XI/2025
- 050/J/II/2026
- 051/J/II/2026
- 052/J/II/2026
- Kode Etik Jurnalistik
- Sitemap



