PT Waskita Langgar Kesepakatan, Aparat Tidak Berdaya

Spread the love

Jurnalline.com, Kayuagung OKI(Sumsel) – Masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terus menjadi korban pengerjaan proyek Jalan Tol Pematang Panggang – Kayuagung dan Kayuagung – Palembang – Betung (Kapal Betung).

Pasalnya, mobilisasi kendaraan  berat pengangkut material proyek yang lalu lalang membuat sejumlah ruas jalan di wilayah ini hancur. Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang menggunakan sepeda motor mengalami kecelakaan akibat material yang berserakan di ruas jalan di perkotaan Kayuagung.

Seperti yang terjadi pada Rabu (14/2) siang di pangkal Jembatan menuju Kelurahan Kotaraya. Seorang wanita yang membonceng anaknya tergelincir dan nyaris terlindas mobil tronton yang berlambang PT Waskita. Beruntung, pengendara dan anaknya tidak mengalami luka yang berarti.

Kadishub OKI, Syaiful Bahri membenarkan jika pihaknya bersama Polres OKI dan PT Waskita telah membuat terkait lalulalang kendaraan proyek. “Memang ada jam – jam yang dilanggar,  personil kita juga sudah sangat lelah untuk mengatur arus lalulintas di pangkal jembatan,  macet yang terjadi gara – gara mobilisasi kendaraan Waskita,” pungkasnya.

Diketahui,  sesuai kesepakatan kegiatan mobilisasi kendaraan proyek tidak boleh masuk jalur kota pada saat pukul 06.00 Wib hingga 19.00 WIB. Dan kendaraan pengangkut material proyek mengurangi muatan tonase, sehingga tidak lebih dari 25 ton.

Akbar, warga Kotaraya Kayuagung mengaku berang dengan aktifitas kendaraan pengangkut material tol yang dengan seenaknya melintas di jam-jam sibuk. “Padahal sebelumnya ada kesepakatan antara PT Waskita, Dishub OKI dan Satlantas Polres OKI, dimana dalam Surat perjanjian itu disepakati kendaraan pengangkut dilarang melintas di saat jam sibuk seperti Pagi dan siang hari,” ungkap Akbar kepada Jurnalline.com kemarin.

Menurut Akbar, jika pihak terkait tidak berani menindak kendaraan yang melanggar kesepakatan tersebut, maka masyarakat sendiri yang akan mengambil langkah dengan menghentikan paksa kendaraan – kendaraan itu.

“Kita sebagai masyarakat tidak mendapatkan apa apa dari proyek tol. Sementara setiap harinya kami harus merasakan debu, jalan rusak dan sewaktu-waktu musibah bisa mengintai,” cetusnya seraya mengatakan akan mengajak masyarakat untuk sweping angkutan berat yang melanggar kesepakatan melintas.

(Eka DH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.